Hampir di semua media sedang ramai tentang pertarungan dua kubu ini (transportasi online vs transportasi konvensional), baik media sosial, elektronik, bahkan media cetak.

Banyak pakar, professional, dan bahkan pengamat (dadakan) yang ikut berkomentar tentang kekisruhan ini. Ada yang berpendapat bahwa bisnis berbasis aplikasi ini adalah perubahan yang tidak dapat dihindarkan akibat perubahan teknologi. Ada juga yang berpendapat ini masalah konsep ekonomi baru yaitu sharing economy melawan sistem ekonomi lama (kapitalisme). Ada yang berpendapat bahwa ini hanya berbeda model bisnis dimana revenue model dari bisnis berbasis aplikasi ini pada pemanfaatan data-data konsumen (monetizing data) yang dikumpulkan sehingga mereka mampu memberikan service dengan harga miring. Namun ada pendapat dari seorang netizen yang cukup menarik bagi saya bahwa transportasi berbasis aplikasi ini belum tentu bagian dari konsep sharing economy dan bentuk model bisnis monetizing data.

Pendapat netizen ini di-capture dalam laman indoblazer.com sebagao berikut.

Nah, sebenarnya “bisnis” apa sih dibalik taksi/ojek online ini, yg tadi saya juga sebutkan sudah lama ada di dunia maya?
Inilah “bisnis” nya:
Saya terjun ke usaha BAKSO BERBASIS APLIKASI. Harga bakso per porsi saya tetapkan Rp 4000. Cost produksi Rp. 8000.
Saya tidak mau rugi. Saya bikin usaha tujuannya nyari untung. Bagaimana caranya saya bisa untung dgn jualan bakso si bawah harga produksi?
Caranya:
Tahun pertama
Saya butuh modal 1 milyar. Saya cari investor yg mau invest 1 M. Sebagaimana investor umumnya yg juga bertujuan nyari untung, maka utk menarik minat mereka saya tawarkan keuntungan 20%. Artinya, saya akan kembalikan uang investor pada akhir tahun sebesar 1,2 M.
Investor dapat.
Dari 1 M, 200jt masuk kantong saya pribadi, sisanya 100jt utk modal bakso. 700 jt sisanya utk pasang iklan secara masif di tv.
Tahun kedua.
Saya punya kewajiban mengembalikan 1,2 M ke investor tahun pertama.
Darimana saya dapat uangnya, sementara bisnis bakso saya tidak mendatangkan untung? Ingat, saya jual bakso jauh di bawah harga produksi.
Caranya. Saya cari lagi investor yg mau invest 2 M. Saja janjikan keuntungan 20%. Artinya di akhir tahun kedua saya akan kembalikan 2,4 M.
Investor dapat.
Dari 2 M:
1,2 utk mengembalikan uang investor tahun pertama.
200 jt masuk kantong pribadi
100 jt utk modal bakso
500 jt utk jor2an pasang iklan lagi di tv.
Tahun ketiga, keempat dan kelima saya ulang2 lagi caranya.
Pada tahun ke 6, saya jual usaha saya seharga 100 M ke perusahaan internasional.
Atau jika saya tidak jual, saya masuk ke bursa saham, melakukan IPO. Karena usaha saya sudah banyak dikenal, maka tidak susah bagi saya menjual saham saya. Bahkan bisa jadi dalam waktu singkat harga saham perdana saya bisa berlipat ganda. Apalagi jika ada yg menggoreng saham saya.
Dari situlah saya dapat untung besar. Jadi bukan dari jualan bakso!

 

Taxi Online vs Taxi Konvensional: Apa yang terjadi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *