Luck is what happens when preparation meets opportunity” (Seneca)

——-

Akhir pekan lalu saya menyaksikan tayangan Japan Channel di Metro TV yang membahas tentang berbagai hasil penelitian di sebuah Universitas di Jepang. Seorang profesor di sana menceritakan tentang penelitiannya untuk mengembangbiakkan ikan tuna mulai dari siklus awalnya (telur) hingga siap untuk bertelur kembali. Ikan tuna merupakan makanan favorit di Jepang, selain salmon tentunya. Kita mungkin familiar dengan hidangan sushi dan sashimi yang kerap menggunakan kedua ikan tersebut. Pada akhir tahun 1980-an (kalau tidak salah), pemerintah Jepang memberikan Research Grant kepada universitas tersebut beserta 4 organisasi riset dan industri lainnya untuk budidaya ikan tuna dengan siklus penuh (dari telur). Ikan tuna merupakan ikan laut yang dikenal dengan ikan yang susah bertelur meskipun “akuarium” nya sudah diletakkan di laut sekalipun. Akhirnya, pemerintah jepang harus meng-ekspor bibit (anak) ikan tuna yang kemudian dibiakkan di Jepang untuk menekan harga dari biota laut tersebut agar lebih terjangkau bagi masyarakatnya. Namun, impor bibit tuna tetaplah dianggap terlalu “mahal” untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat Jepang.

Selama kurang lebih 5 tahun, riset dari kolaborasi 5 institusi tersebut tidak membuahkan hasil. Mereka belum berhasil mengembangbiakkan tuna hingga berhasil bertelur di akuarium yang disiapkan. Akhirnya, pemerintah Jepang menghentikan bantuan dananya. Namun, universitas tersebut (yang menjadi narasumber) tidak mau menyerah. Mereka berupaya mencari dana dari sumber lain dengan menjual hasil-hasil riset mereka dari membiakkan ikan ekor kuning dan ikan-ikan yang lain. Sampai di tahun 1994, Jepang dilanda cuaca panas sepanjang tahun sehingga menyebabkan air laut di “kolam” mereka mencapai suhu 24 derajat Celcius. Dan saat itulah.. “keajaiban” terjadi. Ikan tuna yang ada di sana mulai bertelur. Ternyata, selama  ini ikan tuna selalu mencari air laut bersuhu di atas 24 derajat Celcius untuk berkembang biak. Akhirnya, mereka mengembangkan teknologi untuk menjaga suhu di kolam tersebut agar selalu diatas 24 derajat. Dan kini… Jepang pun bisa memproduksi ikan tuna sendiri secara mandiri, mulai dari siklus telur hingga bertelur kembali. Dan tentunya bagi sebuah institusi riset, ini merupakan sebuah keberhasilan besar yang bisa memberikan keuntungan bagi mereka secara ekonomis (hak cipta) maupun non-ekonomis (citra kompetensi sebagai lembaga riset)

—–

Menyimak dari kisah tersebut, kesuksesan tidak datang begitu saja, tapi melalui kerja keras yang memakan waktu lama. Beberapa orang mungkin bisa sukses dalam waktu singkat, tanpa perlu kerja yang terlalu keras. Apakah bisa disebut sebagai sebuah keberuntungan belaka? Kalau dilihat lagi kisah universitas di Jepang tersebut, mungkin saja mereka tidak jadi sukses kalau mereka tidak “bertemu” dengan fenomena iklim panas di tahun 1994. Bukankah ini sebuah kebetulan yang langka? Kesempatan yang tidak mereka rencanakan sendiri, tetapi atas bantuan Tuhan. Kalau orang nyinyir jaman sekarang bilangnya: “mereka mah beruntung saja pas ada kejadian itu, akhirnya berhasil”. Tapi bukankah mereka tidak akan jadi berhasil kalau mereka sudah tidak lagi bekerja keras meneruskan penelitian itu, seperti keempat mitranya yang lain?

Mungkin sekarang kita (maksudnya saya pribadi 😀 ) baru bisa menghasilkan karya ilmiah yang “ala kadarnya” dan belum cukup fenomenal dan berdampak luas bagi masyarakat. Tetapi, kerja keras yang terus menerus dan dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat membawa kita (saya pribadi dan telkom university) kepada sebuah kesuksesan untuk menjadi peneliti dan lembaga riset yang kompeten. Semangat!!

My success was due to good luck, hard work, and support and advice from friends and mentors. But most importantly, it depended on me to keep trying after I had failed.” (Mark Warner)

Sukses atau Beruntung?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *