Bagi yang punya anak kecil di rumah, tentu tak asing dengan dua judul serial animasi tersebut: Upin & Ipin serta Adit & Sopo Jarwo. Dua animasi dari dua negara bertetangga tsb (Malaysia dan Indonesia) menarik perhatian saya karena sebagai animasi anak bangsa, menurut saya Adit & Sopo Jarwo lumayan bagus dibandingkan animasi lokal lainnya. Tidak kalah dengan animasinya Upin-Ipin yang sudah lebih dulu tayang di layar kaca. Tapi disini saya tidak akan membahas soal teknologi animasi dari dua serial tersebut, tapi hal yang lain yaitu masalah bentuk komunikasi iklan yang terselip di dalamnya.

Pada awalnya, serial Adit & Sopo Jarwo tidak “disisipi” iklan komersial. Setelah tayang beberapa episode, Adit & Sopi Jarwo mulai mengangkat beberapa tokoh real seperti Arman Maulana, CherryBelle, hingga yang terbaru BJ Habibie. Saya merasa bahwa apa yang dilakukan animasi ini mengikuti apa yang sudah dilakukan serial Upin-Ipin terlebih dahulu. Ya, di animasi negeri Jiran tersebut sering disisipi “pesan sponsor” mulai dari tokoh seperti P. Ramli, hingga layanan masyarakat seperti rajin menggosok gigi sampai ke soal rasuah (korupsi). Tapi apa yang berbeda dari dua serial ini? Cara menyampaikan “pesan sponsor” yang menurut saya sangat berbeda. Di Upin-Ipin, komunikasi yang mereka gunakan sangat halus dan “ngeblend” dengan alur cerita dan para tokohnya. Sedangkan di Sopo-Jarwo, komunikasi ini terkesan dipaksakan. Misalnya, BJ Habibie dijadikan saudara Dennis atau Arman Maulana dijadikan sahabat si Tukang Bakso (mendadak lupa namanya). Beda dengan Upin-Ipin… ketika ada tokoh yang disisipkan, maka tokoh tersebut tetaplah dirinya alias tidak ada hubungan apapun dengan tokoh yang sudah ada di dalam serial tersebut. Hanya kebetulan berkunjung atau lewat di kampung mereka.

Selain dalam mengiklankan para tokoh, di serial Adit & Sopo Jarwo seringkali “menyisipkan” scene iklan sponsor (produk) yang sangat tidak natural dan membaur dengan alur cerita. Misalnya, ditengah adegan Adit dan Dennis sedang naik sepeda, tiba-tiba muncul scene teman mereka yang sedang diberi vitamin (dari sponsor tentunya) oleh kakeknya.. kemudian scene kembali ke adegan Adit dan Dennis bermain. Berbeda sekali dengan serial Upin-Ipin. Setiap pesan sponsor selalu dibuatkan satu cerita khusus sehingga tidak hanya menampilkan logo produk saja.. tapi ada alur cerita sebagai pengantarnya yang dilakonkan oleh si pemeran utama. Misalnya, saat ada sponsor bumbu instan..maka diceritakan bagaimana kak Ros sedang senang menggunakan bumbu-bumbu tersebut untuk memasak.

Saya memang bukan ahli marketing apalagi pakar komunikasi. Tetapi, sebagai konsumen yang menjadi target komunikasi pemasaran tersebut, saya merasa sangat terganggu dan menjadi kurang menikmatinya. Hal seperti ini juga terjadi di beberapa Radio. Ada radio yang ketika menyampaikan iklan, dibuat seperti dialog yang sangat natural oleh para penyiarnya. Sedangkan ada juga radio yang hanya membacakan pesan produk secara kaku. Tentunya hal ini dapat mengganggu para pendengar radio dan merasa tidak nyaman karenanya.

Well, it’s just my two cent. Semoga animasi Indonesia semakin baik lagi kedepannya..bukan hanya dari sisi teknologi tapi juga dari cerita dan pesan-pesan yang disampaikan bagi anak-anak Indonesia.

 

Advertising Communication: Upin-Ipin VS Adit-Sopo Jarwo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *